Bedog Arts Festival

tindakan memecahkan masalah. Pertemuan kreatif ini terwujud melalui berbagai kegiatan kreatif baik yang bersifat pemecahan masalah lingkungan, artistik, hingga ekonomi kreatif.

VISI
Menjadi ruang temu kreatif yang merefleksikan kehidupan harmonis antara manusia dengan sesama, lingkungan, dan Tuhan melalui kesenian/kebudayaan, kemasyarakatan, dan kemanusiaan.

MISI
Menyelenggarakan festival seni pertunjukan di lingkungan sungai Bedog dalam rangka mengembangkan seni-budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang peduli pada pelestarian lingkungan hidup.

TUJUAN
1. Menyelenggarakan festival seni pertunjukan di lingkungan sungai Bedog bernana Bedog Arts Festival.
2. Mengembangkan seni-budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
3. Menjalin kemitraan dengan berbagai sektor kerkait yang mendukung penyelenggaraan festival.
4. Melaksanakan pengelolaan sumber daya kesenian secara transparan agar tercipta pelayanan kepada masyarakat dan pelaku kesenian yang akuntabel.
5. Peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup.

HISTORI
LATAR BELAKANG

Gempa bumi Yogyakarta pada tahun 2006 merupakan semangat lahirnya Bedog Arts Festival oleh komunitas Studio Banjarmili. Komunitas Banjarmili lahir ketika Miroto membentuk tim relawan Forum Seniman Gumregah (FSG) yang tanggap darurat terhadap korban bencana gempa bumi tahun 2006 di Yogyakarta yang menewaskan 6.234 orang. Selama 4 bulan, tim ini menyelenggarakan pentas keliling dan mendorong para seniman korban gempa bangkit untuk pentas di lingkungan masing-masing untuk menghibur diri para korban di lokasi bencana dengan bantuan dana penyelenggaraan dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh tim relawan. Disamping itu juga memproduksi pentas Kethoprak Saijah dan Adinda dimainkan oleh para korban gempa antara lain: Widayat, Bondan Nusantara, Rini Widyastuti, Hargi Sundari, dll dipentaskan di Jakarta (Gedung Kesenian Jakarta), Surakarta (Taman Budaya Jawa Tengah), dan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Kegiatan ini didanai oleh: Kedutaan Besar Negara Belanda; Gedung Kesenian Jakarta; Taman Budaya Yogyakarta, Taman Budaya Jawa Tengah (Surakarta). FSG juga menyelenggarakan pentas wayang kulit semalam suntuk pada peringata 40 hari gempa Jogja di halaman pintu masuk Makam Raja Imogiri dengan dalang Ki Timbul Hadi Prayitno dengan cerita Semar Mbabar Jati yang dihadiri Presiden RI ke empat, Gus Dur. Peristiwa wayangan ini mendekatkan Miroto dengan tim relawan Haposan Gilbert Manurung dan Agung Gunawan sehingga pada tahun 2007 sangat solit menyelenggarakan Bedog Arts Night sebagai ekspresi lanjutan aksi sosial melalui kesenian. Haposan membantu kegiatan di bidang manajemen, sedangkan Agung membantu bidang pementasan. Miroto sebagai pimpinan, mencari dana dan dukungan dari berbagai pihak. Spirit relawan tidak padam meskipun FSG dibubarkan 4 bulan setelah gempa dan transformasi menjadi kegiatan festival seni pertunjukan bernama Bedog Arts Night yang kemudian bernama Bedog Arts Festival.

BEDOG ARTS NIGHT

Pada tahun 2007, Martinus Miroto memprakarsai suatau festival bernama Bedog Arts Night yang diselenggarakan di lingkungan sungai Bedog, Studio Banjarmili. Miroto, sebagai pemilik Studio Banjarmili, dibantu oleh rekan-rakannya (mantan tim relawan fsg) yang tergabung dalam komunitas Banjarmili, terutama Agung Gunawan dan Haposan Gilbert Manurung. Event ini berformat festival seni pertunjukan internasional yang menyajikan pentas tari dan musik dari Kamboja, Spanyol, Jepang, dan Indonesia mendapat bantuan dana dari Asian Cultural Council, New York sebesar 3500 USD. Desain ratusan lampu minyak dalam event ini mendapat inspirasi dari Borrowing Sceenery karya tari kontemporer kolaborasi Angelia Liong (Singapore) dan Martinus Miroto yang dipentaskan di sungai Bedog Studio Banjarmili dalam rangkan Festival Kesenian Yogyakarta pada tahun 2001.

Tahun 2008, Miroto didukung GKR Pembayun (GKR Mangkubumi), Garing Nugroho, dan Angger Jati Kusuma melanjutkan semangat Bedog Arts Night dan mengubah nama menjadi Bedog Arts Festival tanpa mengubah format yakni festval seni pertunjukan internasional di lingkungan sungai Bedog, Studio Banjarmili dengan dana dari Art Network Asia (ANA) Singapura dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Sejak itu Bedog Arts Festival diselenggaran secara tahunan. Pada tahun 2012, BAF mendapat penghargaan MURI sebagai pemrakarsa dan penyelenggara festival internasional di lingkunang sungai.

FAKTA

Tahun 2020, BAF memasuki tahun penyelenggaraan yang ke 11 tetapi karena pandemi Covid-19, ditiadakan.
Berdasarkan perhitungan tiket parkir yang dikeluarkan, penonton yang hadir pada setiap event festival sejumlah sekitar 1000 orang per malam pertunjuan.
Ratusan seniman dalam dan luar negeri tampil dalam setiap penyelenggaraan festival.
Penonton: lokal, nasional, internasional usia anak hinga orang tua.
Pedagang kecil yang rata-rata menjual makanan, laris manis, yang menunjukkan peningkatan geliat ekonomi kreatif warga setempat.
Pemuda-pemudi Karang Taruna mendapat pembelajaran manajemen festival yang dapat mengembangkan potensi kepemimpinan generasi muda.
Warga dilibatkan sebagai penitia merupakan sistem manajemen yang mendorong peningkatan kepemimpinan dan sikap toleransi.
Open manajemen yang diterapkan menjadi kunci kesuksesan selama ini.
Sistem kemitraan dengan pelaku seni, media, warga, dan sponsor menjadi ruh BAF.
Medsos selalu 'ramai' mewartakan BAF, hal ini bisa dibuktikan aktifnya penonton dan media mengupload kegiatan BAF.

TEMA

Merajut kembali hubungan antara masyarakat dengan budaya sungai.

Masyarakat sudah lama meninggalkan budaya sungai. Dulu, sungai menciptakan budaya tersendiri seperti ciblon, nyuluh, byur-byuran, bantingan, nyabrang kali, nawu iwak, dll. Kini, budaya sungai telah bergeser. Sungai menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah, MCK, serta dianggap pekiwan, yakni tempat kotor yang harus disembunyikan. Rumah-rumah membelakangi sungai, menutupi sungai agar tidak terlihat kumuhnya. Akibatnya, sungai benar-benar menjadi kumuh dan sebagai sumber penyakit. Budaya sungai kemudian hilang ditelan zaman. Kini, kita harus merajut kembali hubungan dengan budaya sungai, meski tidak mudah. Namun, jika komitmen dapat disebarkan ke seluruh penjuru baik masyarakat maupun pemerintah, diharapkan, kita dapat merajut hubungan kita dengan sungai.
Bedog arts festival sebagai ruang temu kreatif, mengajak kita semua untuk peduli pada situasi ini. Persoalan sampah merupakan masalah kita bersama. Semua andil dalam tindakan 'mengotori' lingkungan. Plastik yang digunakan untuk tempat makanan, setiap hari menambah sampah di lingkungan tanpa ada sistem penataan secara menyeluruh. Kini harus membuat sistem flowing sampah dari rumah sampai pada TPS. Jadi, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama kreatif, menciptakan budaya baru, budaya mengelola sampah demi pelestarian lingkungan dan demi persahabatan kita dengan budaya sungai yang sudah lama kita tinggalkan.
© 2020. All Right Reserved